“Diskusinya ini menarik karena yang mengaji di sini dari berbagai segmen atau berbagai latar belakang. Sehingga ketika membahas satu hadits itu bisa dipandang dari berbagai sudut, dari politik dan berbagai hal lainnya.”
***
Pagi setengah siang pada hari Sabtu, saya beranjak ke Jalan Ahmad Yani Bojonegoro, menuju gedung atau kantor PCNU. Saat itu kalender menunjuk angka 15 Januari 2022. Seperti biasa mengikuti pengajian rutin hari Sabtu yang mulai digelar sejak beberapa bulan yang lalu. Sesampainya di sana, di ruang pojok kiri terlihat belasan santri sedang asyik membelai kitab kuning. Santri yang hadir pun juga dari berbagai ragam latar belakang, mulai dari kiai, aktivis, ASN, warga umum, hingga kadang-kadang juga hadir seorang dokter. Salah satu dari 'lingkaran' ini, ada yang membacakan kitab kuning yaitu Kiai Ahmadi. Kadang-kadang juga digantikan oleh Kiai atau Santri lainnya yang hadir, dan beberapa lainnya menyimak. Saya kemudian terburu-buru lekas untuk bergabung. Karena ternyata sudah telat beberapa menit yang lalu. Mencoba untuk tenang, saya pun tetap bersalaman memutar dengan seluruh santri dan kiai yang hadir. Lalu duduk bersama mereka, dan ikut mendengarkan pengajian kitab kuning. Kitab yang 'Ringan'
Seusai mengaji, saya pun memberanikan diri bertanya kepada Kiai Ahmadi tentang kitab kuning yang sedang dikaji. “Yai kenapa mengaji di sini kitab yang dikaji kitab “Riyadhus Sholihin”?.
Dengan nada santai beliau menjawab “Ya karena, satu bahasannya ringan tidak membutuhkan pemikiran yang dalam seperti ngaji kitab fikih. Jadi kitab Riyadhus Sholihin itu kitab fun hadits yang dalam memikirkan tidak butuh secara mendalam karena sudah jelas”.
Jadi menurut beliau kitab kuning yang dikaji ini tidak membebani para santri, meski di tengah sibuknya aktivitas sehari-hari. “Maka dipilih kitab yang ringan, maksudnya ringan dalam hal membaca, dan memahaminya” tutur seorang Kiai yang juga Pengasuh PonPes Darul Ma’arif.
Sebab, kata Beliau, mengaji merupakan amaliyah yang membutuhkan pemikiran karena terdapat aktivitas kajian ilmiah. Selain itu juga untuk menghidupkan kembali tradisi ulama’ terdahulu.
“Secara garis besar kitab Riyadhus Sholihin, kitab yang berisikan tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan tasawuf, pada kajian tentang hati dan cenderung untuk membersihkan hati,” tutur beliau.
Tentunya sambil menyelam kita juga dapat meminum air. Tidak hanya mengasah pemikiran tetapi juga dapat belajar cara membersihkan hati dalam pengajian kitab ini.
Selain sibuk dengan kitab kuning, juga tampak beberapa minuman teh dan kopi serta rokok di antara kami. Sebab mengaji di sini tidak terlalu formal, seperti ngaji pada umumnya. Sambil mengaji kami masih bisa menyempatkan untuk menyeruput kopi, ngudud, dan menikmati jajanan gorengan (ngaji, ngopi, ngudud).
Salah satu santri, Moch. Rosyid yang lebih akrab disapa Cak Ong mengatakan “Asyik aja, karena di sini tidak terlalu formal dan tidak banyak santrinya. Jadi kita lebih fokus diskusinya, enjoy. Pengen ngopi, pengen ngudud, dan yang terpenting mendiskusikan apa yang kita kaji”.
Melihat dari Banyak Sudut Pandang
Memang forum yang ditawarkan dalam pengajian kitab kuning ini sangatlah rileks dan cocok untuk berbagai macam kalangan. Menariknya lagi mengaji di sini juga mengedepankan bebas berpendapat bagi seluruh santri. Bahkan saya dapat melihat jelas wujud keegalitarian belajar antara Kiai dan Santri di sini.
“Diskusinya ini menarik karena yang mengaji di sini dari berbagai segmen atau berbagai latar belakang. Sehingga ketika membahas satu hadits itu bisa dipandang dari berbagai sudut, dari politik dan berbagai hal lainnya,” ujar Cak Ong yang sekaligus Pengurus Cabang NU Bojonegoro.
Di dalam forum, santri dan kiai sudah terbiasa berdebat tentang keilmuan kitab kuning tanpa meninggalkan sikap tawadhu’ seorang santri. Akan tetapi di luar forum seorang santri tetap hormat kepada sang kiai
Kadang saya juga heran, padahal orang-orang yang hadir di forum ini bukan orang yang nganggur. Bisa dikatakan orang sibuk semuanya, hingga akhirnya pertanyaan saya pun terjawab. “Menariknya apapun itu majlis ta’lim menurut saya penting, kebetulan ini hari Sabtu di luar jam kedinasan, jadi kalau tidak menyempatkan ya rugi,” ujar Cak Ong. Jadi nggak ada ruginya datang di forum ngaji ini, selain dapat mengulas kembali keilmuan. Kita juga akan diingatkan kembali pada masa-masa saat mencari dan cara mendapatkan ilmu.
Agak sedikit kaget, kebetulan pada saat itu tampak hadir juga salah seorang dokter. Hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk mendekat lalu membuka pembicaraan dengan beliau. Saya memulai percakapan dengan bertanya “Pak Dokter kira-kira tanggapannya terkait kegiatan ini bagaimana?”. Beliau menjawab dengan nada tegas “Kegiatan ini positif, kalau bisa ya istiqomah, karena selain membahas kitab juga ada diskusi. Mudah-mudahan menjadi kajian yang sangat baik, karena seringkali kita berkumpul dengan orang. Kadang-kadang yang dibahas itu macam-macam, dengan adanya besic kitab kuning paling nggak kita dapat terarah. Dan masalah yang aktual bisa terjawab” tutur dr. H. A. Hernowo Wahyutomo, M.Kes.
Selalu Ingin Istiqomah
Bahwa dengan basic kitab kuning, majlis dapat terarah pada pembahasan. Selain itu juga dapat membuka ruang-ruang diskusi dan dapat menjawab persoalan yang aktual.
Tidak ingin membiarkan beliau beranjak begitu saja, langsung saja saya mengajukan pertanyaan kembali “Pak Dokter, apa harapannya ke depan untuk forum seperti ini?”.
“Kita berharap yang pertama adalah istiqomah, yang paling penting itu. Sedikit apapun dengan kita terus upayakan istiqomah, insya allah efeknya akan baik untuk semuanya. Terutama untuk diri kita sendiri, jadi kita semakin bisa menjaga diri sendiri ke depannya” ujar beliau.
“Terimakasi Dok” sambil tersenyum untuk mengakhiri percakapan.
Kemudian saya mendekati salah seorang santri lagi, sebut saja Heri Puji Susanto atau yang lebih akrab disapa dengan nama Kaji Heri. “Mas dulu asal usulnya pertama kali ngaji ini bagaimana?” Saya membuka percakapan kepada Kaji Heri.
“Awal mulanya saya dengan Kiai Ahmadi ingin melalar kitab yang belum selesai pada saat di pondok, sebelumnya juga sempat mempunyai keinginan melalar. Setelah melihat situasi, ternyata yang paling cocok daripada obrolan biasa, yang paling cocok pegang kitab sambil melalar” ujar Kaji Heri.
Awal mula konsep yang dipakai dalam ngaji kitab ini ialah berangkat dari keinginan melalar kembali kitab yang belum selesai waktu di pesantren.
Lalu Kiai Ahmadi pun memberi usulan ide agar tidak sendirian pada saat melalar kitab. Seperti yang diungkapkan Kaji Heri “Nanti kalau melalar kitab jangan sendirian Ji, mending bareng-bareng. Akhirnya dengan kesepakatan tiga orang, Saya, Roziqin, dan Kiai Ahmadi membuat kajian hari Sabtu. Setelah itu mengundang Cak Ong dan beberapa teman lainnya melalui medsos terjadilah kajian rutin seperti ini”. Jadi seperti itulah kira-kira secara singkatnya asal-usul kajian rutin ini.
Forum ini, sebenarnya dibuka untuk umum setiap hari Sabtu pukul 10.00-12.00, bahkan juga bisa diikuti oleh orang luar NU meskipun berada di gedung NU. Selain untuk belajar tentang tasawuf, forum ini juga sebagai bentuk usaha merawat kearifan tradisi aswaja an-nahdliyah.
Kitab Riyadhus Sholihin merupakan kitab hadits yang disusun oleh Imam Nawawi. Hadits sebagai sumber dasar pengambilan hukum yang kedua setelah al-qur’an di kalangan an-nahdliyah. Tentunya sangat penting untuk sering dibaca dan didiskusikan kembali serta ditulis bagian pentingnya. Sehingga dengan cara-cara di atas, hadits tetap mudah dipahami dengan makna yang shahih oleh kalangan milenial.
Komentar
Posting Komentar