
***
Kembali ke Taiwan, di daerah apartemen urban seperti kota yang saya tingggali saat ini, Kaohsiung mobil sampah datang tiap pukul 18.50 setiap hari dan hanya libur hari Rabu. Tak ada tukang sampah keliling. Saya tak tahu tempat pembuangan umum. Yang saya tahu tiap ada sirine mobil kuning, maka saat itulah sampah di apartemen saya mesti di lempar ke truk. Sampah-sampah itu juga mesti dibedakan. Barang pecah belah. Botol plastik. Kardus. Sampah dapur, semua ada tempat tersendiri. Jangan salah lempar ke bak truk, anda akan merasa terintimidasi oleh lirikan banyak orang, seperti ketika anda ketahuan makan gorengan lima anda bayar 3. Pernah teman saya, di ruang flatnya ada TV tabung kuno 32 inch yang bisa anda bayangkan beratnya, bisa lebih dari 50kg. Mengangkatnya keluar perlu 3 orang. Saya bilang ke teman untuk mengantarkna ke tukang servis TV di seberang siapa tahu bisa untuk bahan kanibal. Bapak tukang servisnya menolak, buang saja katanya. Yang ada di otak saya waktu itu bagaimana mengangkat TV ini ke truk sampah, wong menurunkan dan mengeluarkan dari lantai 3 saja ngos-ngosan. Tiba mobil sampahnya tepat waktu, kami bawa pakai dongkrak sorong kotak belanja. Saya tanyakan ke petugas sampah kering dan recycle, “bisa bawa TV itu?”. Dengan enteng saja di jawab, “ya bawa saja ke sini”. Dibukalah pintu bak belakang, dia ambil tombol, pencet, hidrolik bergerak pelan, pintu bak itu sudah sejajar aspal. TV yang saya bayangkan musti di gotong rame-rame di atas pundak itu untuk sampai ke dalam bak cuman didorong saja, digeser masukkan ke pintu bak truk tadi, pencet tombol dan sisanya biarkan hidroliknya bekerja. Lain cerita dengan para buruh migran. Wajah mereka saya amati amat ceria. Berbinar. Aktivitas membuang sampah bisa buat orang sebahagia ini. Mereka, para buruh migran ini menunggu mobil sampah ini dengan rindu. Salah satu hal yang membuat para buruh migran ini datang lebih awal dan pulang lebih akhir dari waktu seharusnya adalah membuang sampah. Prosesi membuang sampah hanya perlu waktu lima menit, tapi para buruh migran ini bisa datang lebih awal untuk bisa bertemu sesama pekerja. Di negeri asing, dengan sedikit Bahasa lokal yang bisa anda kuasai. Kesibukan harian yang monoton dan lama kelamaan jadi beban dan membosankan di dalam rumah majikan. Apa yang anda harapkan adalah melihat udara segara di luar dan berbicara dengan Bahasa ibu anda, melihat wajah-wajah orang yang sebangsa. Dan kesempatan itu ada ketika sirine sampah terdengar. Musik sederhana yang membuat jantung berdegup. Nada-nada yang mampu mengalihkan sekejap dunia pekerjaan yang melelahkan. Suatu kesempatan saya mendengar percakapan “Itu simbah yang di rumah nomer 115 tadi pagi meninggal” “Makanya kok tadi ada mobil ambulan dan polisi” “Begitulah kalau ada yang meninggal, tidak perlu tetangga tahu, tinggal di bawa ke tempat kremasi.” Seuasai mobil sampah itu pergi ke tujuan berikutnya, para buruh migran ini masih ngobrol beberapa saat. Ada juga jalan ke toko untuk sekedar beli minuman segar, atau belanja kebutuhan sehari-hari. Esok mereka akan jumpa dan bercengkerama lagi. Buruh migran pada akhirnya adalah sebagaimana Sikhi-Dhvaja, seorang raja yang mesti melewati ujian. Dan ujian itu mungkin bentuknya plastik-platik bau penuh sampah. Dengan melemparnya ia juga melempar kama, bhoga dan krodha (nafsu, keserakahan, amarah). Sikhi-Dhvaja belajar tentang hidup pada isterinya, Chudala yang menyamar jadi Kumbha dan Madanika. Saya cukup belajar dari mbok-mbok buruh migran melempar sampah.
Komentar
Posting Komentar