Toko Buku Wenjin Kaohsiung
Pada saat pesta helloween Junior dan Penelope kebetulan memakai jenis pakaian yang sama, pakaian orang gelandagan. Penelope di mata junior masih termat cantik meski berapakaian gelandangan. Namun yang justeru yang ingin dikatakan Penelope adalah I’m not trying to be cute; I’m wearing this to protest the treatment of homeless people in this country. Tentu dengan enteng Junior menimpalinya dengan logika yang sama I’m wearing this to protest the treatment of homeless Native Americans in this country. Dua hal yang cukup kontras antara dua budaya, dua wilayah yang sangat berdekatan itu juga tergambarkan pada pikiran Junior ketika ia pada akhirnya, dengan adegan ini malah membuatnya kian erat dengan Penelope. Ketika Junior pergi ke kamar mandi, ia mendengar seorang perempuan sedang muntah, takut ada apa-apa, sebagai lelaki yang baik perasaanya ingin menolong. Yang justeru ia temui adalah Penelope yang sedang berusaha melakukan bulimia. Aksi memuntahkan makanan, agar berat badannya tetap ideal. Melihat itu junior dalam benaknya berpikir There are all kinds of addicts, I guess. We all have pain. And we all look for ways to make the pain go away. Penelope gorges on her pain and then throws it up and flushes it away. My dad drinks his pain away. Sewaktu mendengar neneknya meninggal, satu hal yang ia sangat sesali adalah betapa buruknya efek minum alkohol. Selama hidup neneknya tak pernah setetspun minum, namun mati gara gara ditabrak sopir yang sedang mabuk. Begitu juga ketika Mary, kakak perempuannya meninggal, ia tak bisa merasa sedih ketika mendengar guru konselingnya memanggil untyuk memberitahukan berita buruk tersebut. Ia ingin tahu sebab apa kakanya meninggal. Ayahnya bercerita, mary meninggal karena terlalu mabuk bahkan untuk mengetahui kalo kabin rumahnya terbakar. Sebab mabuk itulah ia bahkan tak merasakan bahwa tybuhnya dilalap api dan hangus bersama rumah yang mereka tinggali. Menyelesaikan membaca novel ini saya kemudian teringat dengan Ulid Tak Ingin Ke Malaysia karya Mahfud Ikhwan. Dua novel yang berangkat tentang cerita desa, dunia anak-anak dan beratnya tantangan kehidupan desa dengan akhir ceita yang tak bahagia. Junior pada akhirnya merasa bahwa kehidupan di kota orang kulit putih tak selalu sebagaimana yang diharapkan. Ulid pada akhirnya harus kalah dengan seuatu yang sangat dibencinya sewaktu kecil, pergi ke Malaysia. Junior gagal menjadi pendamping Penelope, Ulid ditinggal menikah oleh juwariyah. Dan dua novel ini bisa dibaca sebagai otobiografi masing-masing penulis, yang tentu saja ingin menceritakan bagian kehidupan yang sudah mereka lalui, tanpa jatuh pada romantisme naif atau menye-menye belaka. Shenyang 111-6, Kaohsiung, 2019
Komentar
Posting Komentar