
***
Tidak mudah memahami bagaimana negara miskin Jamaika bisa melahirkan manusia-manusia tercepat sejagat. Ada banyak teori untuk menjelaskan mengapa para kompatriot Bob Marley itu merajai lintasan lari di seluruh dunia. Teori pertama menyebut nutrisi dan makanan sehat. Pelari hebat Jamaika mayoritas dulunya anak desa yang berjalan jauh ke sekolah, selalu makan makanan sehat dan minum air, bukan softdrink. Teori lain mengungkapkan hasil latihan lari cepat di atas rumput. Lari di atas rumput memperkuat otot kaki. Konon Usain Bolt mengawali latihan lari di atas rumput. Konsep lain adalah kemiskinan sebagai motivator. Hampir semua anak di Jamaika bermimpi ingin jadi bintang lari yang kaya raya. Teori lain yang banyak diyakini secara ilmiah menyebut tentang gen leluhur yang membuat suatu ras punya keunggulan dalam olahraga tertentu. Teori ini yang dipaparkan Jon Entine dalam bukunya. Menurut Entine, Jamaika yang berada di Karibia memiliki satu garis ras dengan orang Afrika Barat. Mereka pada umumnya punya otot kuat, pinggul sempit, betis ringan, dan refleks tendon lutut lebih cepat. Mereka juga punya enzim anaerobik yang bisa berbuah energi lebih eksplosif. Orang Kenya dan Afrika Timur cenderung lebih pendek dan kurus dengan kapasitas paru-paru lebih besar. Pelari-pelari Kenya banyak berasal dari dataran tinggi hingga secara alamiah punya daya tahan untuk lari jarak jauh. Tipikal Kenya adalah musibah untuk lari cepat. Rekor 100 meter putra di Kenya adalah 10,26 detik. Masih bagus rekornas Indonesia 10,17 detik atas nama Suryo Agung Wibowo. Teori gen itu juga yang menjelaskan mengapa negara Eurasia seperti Iran kuat di angkat besi dan gulat. Dengan otot tubuh lebih besar, tungkai lebih pendek, badan lebih tebal, tidak ada prototipe sprinter maupun pelari maraton. Sementara Asia, dengan tubuh lebih pendek, lengan dan tungkai pendek, cenderung lebih fleksibel kuat di olahraga permainan semacam tenis meja dan bulutangkis. Tentu saja, sukses Jamaika dan Kenya tidak semata karena genetik. Jauh di atasnya adalah sistem latihan yang lengkap dan tertata rapi. Kesadaran resource besar dan genetik bagus, rezim latihan disusun sedemikian rupa sehingga bakat yang melimpah berbuah prestasi gemilang turun temurun. Disiplin, adalah syarat lain yang tidak bisa ditawar lagi.***
Sekarang mari kita lihat Indonesia. Jamaika mini di Indonesia tampak pada provinsi Nusa Tenggara Barat. Dari zaman Purnomo, Mardi, Khadik Juntasi, Suryo Agung, John Muray, Franklin Burumi, terlihat persebaran muasal munculnya talent nomor sprint. Jawa Tengah, Sumut, Maluku, sampai Papua. Mulai dari Fadlin, kita melihat sekarang NTB sebagai daerah yang rajin menyumbang sprinter berkualitas. Setelah Fadlin ada Iswandi, Sapwaturahman, Sudirman Hadi dan terakhir Lalu Muhammad Zohri. Sama halnya dengan Salatiga, selalu menjadi produsen pelari jarak menengah dan jauh macam Suryati, Ruwiyati, Triyaningsih dll. Bisa jadi di Salatiga ini faktor Yon Daryono dan klubnya punya pengaruh besar. Tetapi bahwa atlet-atlet hebat lari menengah dan jarak jauh selalu lahir dari Salatiga, itu luar biasa. Nah, saya tidak terlalu paham sports science. Yang kita sama-sama tahu, kemajuan prestasi olahraga sekarang sudah tidak bisa lepas dari sports science. Sports science tentu bisa mengungkap apakah memang betul, genetik atau kondisi alam dan geografis NTB punya faktor besar dalam melahirkan sprinter sprinter hebat. Jangan-jangan secara genetik memang bakat bakat NTB ini cocok sebagai sprinter. Kalau memang iya, mengapa tidak kalau sumber daya yang dimiliki dikerahkan untuk menggali potensi NTB lebih dalam lagi. Ya, seperti menjadikan NTB sebagai “Jamaika”. Selama ini, kita terlalu sering terlena dengan selebrasi, apalagi kalau sudah pakai bumbu-bumbu politis. Puja-puji berlebihan bisa menjadikan atlet emas menjadi loyang bahkan kaleng. Sudah banyak buktinya. Kalau memang ilmu dan teknologi menunjukkan di situ ada tambang atlet emas, kenapa tidak fokus dialihkan ke bagaimana menghasilkan lebih banyak emas-emas yang kelak menambah kebanggaan bangsa. Bagaimana menurut kamu?
Komentar
Posting Komentar